Update Terbaru

6/recent/ticker-posts

Kebutuhan Manusia terhadap Agama


BAB I. PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakamg
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa belakangan ini khususnya di ere dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, banyak manusia yang terlena dengan kemegahan dunia, hidup semaunya, bahkan nyaris tanpa ada aturan-aturan yang mengikat prilaku atau tindakannya. Apabila hal seperti ini dibiarkan, tidak menuntut kemungkinan suatu saat manusia akan hidup bebas yang mengakibatkan manusia dalam hidupnya tidak berbeda dengan hewan.
Manusia merupakan mahluk social yang hampir 100% aktifitasnya berkaitan dengan interaksi baik di dalam lingkunan yang sempit maupun lingkungan yang luas. Manusia juga memiliki karakter, sifat, dan cirri yang berbeda. Oleh karena itu, di dalam interaksinya perlu adanya aturan yang mengatur agar tercipta suasana yang bias memahami setiap karakter dari masing-masing individu yang berinteraksi.

Sementara itu, agama pada umumnya memberikan penjelasan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk berakhlak baik atau buruk. Potensi buruk akan senantiasa eksis di dalam diri manusia karena terikat oleh aspek insting, naluri atau hawa nafsu.
1.2              Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, kita dapat mengangkat beberapa pertanyaan yang akan kita bahas dalam makalah ini:
1.      Apa hakikat manusia dan agama?
2.      Bagaimana teori tentang manusia dan agama?
3.      Apasaja aspek-aspek agama?
4.      Mengapa manusia butuh agama?
5.      Apa fungsi agama bagi manusia?
6.      Bagaimana perkembangan keagamaan bagi manusia?
1.3              Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka secara umum tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Memberikan penjelasan tentang hakikat manusia dan agama.
2.      Untuk mengetahui teori tentang manusia dan agama.
3.      Untuk mengetahui aspek-aspek agama.
4.      Untuk mengetahui alasan manusia butuh agama.
5.      Menjelaskan fungsi agama bagi manusia.
6.      Untuk mengetahui perkembangan keagamaan pada amnesia.



BAB II. PEMBAHASAN
2.1       Pengertian
A.        Pengertian Manusia
Menurut kamus besar bahasa Indonesia yang ditulis oleh Tanti Yunair  mengartikan bahwa manusia adalah “ mahluk ciptaan tuhan yang mempunyai akal, biasa juga disebut orang, insan.”[1]
Sedangkan menurut istilah manusia dapat diartikan berbeda-bada diantaranya dapat diartikan dari segi biologi, rohani dan istilah kebudayaan. Secara biologi “manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti manusia yang tahu), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.”[2]
B.        Pengertian Agama
Menurut kamus besar bahasa Indonesia 


mengartikan bahwa agama adalah “prinsip kepercayaan kepada tuhan dengan aturan-aturan syariat tertentu atau system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaedah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.”[3]
Sedangkan agama menurut kamus sansekerta cetakan pertama tahun 1899 yang dikutip oleh Wikipedia bahasa Indonesia adalah “agama berasal dari bahasa sansekerta agama yang berarti tradisi.”[4]



2.2       Teori Manusia Dan Agama
A.        Teori Manusia
Jika kita berbicara tentang teori terbentuknya manusia, banyak teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli salah satunya adalah teory yang dikemukakan oleh Darwin dalam bukunya The Origin Of Species sebagaimana di kutip oleh Wardaya dalam bukunya Cakrawala Sejarah, Darwin mengemukakan teorinya yang kita kenal dengan teori evolusi bahwa “suatu takson itu tidak statis, tetapi dinamis melalui waktu yang lama dan panjang, dan semua mahluk di muka bumi ini adalah berkerabat.”[5]


  Akan tetapi, konsepsi tentang asal mula manusia dilihat dari sudut pandang agama masing-masing berbeda. Agama islam menyatakan bahwa asal mula manusia adalah diciptakan dari tanah. Sebagaimana diterangkan dalam kitabnya yaitu al-qur’an sebagai berikut :
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*uHxq 5bqãZó¡¨B ÇËÏÈ  
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”[6]
Menurut agama hindu, proses penciptaan manusia dijelaskan dalam prasna upanisad sebagai berikut: “pada awalnya  sang pencipta (Tuhan) merindukan kegembiraan dari proses penciptaan. Dia lalu melakukan meditasi. Lahirlah rayi (zat atau materi) dan prana (roh kehidupan), lalu tuhan berkata : kedua hal ini akan melahirkan kehidupan bagiku.”[7]
            Sedangkan menurut mitologi Yunani manusia pertama kali diciptakan oleh tiga orang dewa yaitu Amos, Promoteus, dan Epimetius.[8]
            Dari berbagai teori yang dikemukakan, kita dapat mengambil kesimpulan bahwasanya manusia pada umumnya percaya bahwa segala sesuatu pasti ada awal mula penciptaannya. Dan yang menciptakan inilah yang kita kenal dengan sebutan tuhan atau dewa yang menjadikan seseorang memiliki kepercayaan terhadapnya.

B         Teori Agama
            Jika kita berbicara tentang agama, maka konsep mendasar yang membedakan masing-masing agama adalah konsep tentang ketuhanan. Ide tentang tuhan dalam ajaran agama-agama yang berkembang secara sendiri-sendiri memiliki banyak keserupaan. Tuhan orang Yahudi, Kristen dan Islam adalah tuhan yang dalam beberapa pengertian berkata-kata (berfirman).
Menurut suatu teori yang dipopulerkan oleh Wilhelm Schmidt dalam The Origin Of the Idea of God, yang pertama kali terbit pada 1912 yangg dikutip oleh Karen Armstrong dalam bukunya yang telah diterjemahkan, Schmidt mengatakan bahwa “telah ada suatu monoteisme primitive sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa. Pada awalnya mereka mengakui hanya ada satu tuhan tertinggi yang telah menciptakan dunia dan menata urusan manusia dari kejauhan.”[9]
Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa pada awalnya manusia meyakini adanya satu tuhan yang maha kuasa namun dalam perjalanan dan perkembangannya, kemudian lahirlah berbagai macam wujud dan presepsi tentang tuhan.
2.3       Aspek-Aspek Agama
Agama dan kehidupan beragama demikian kompleks, untuk memahami kehidupan beragama, diperlukan tentang aspek apa saja yang dimiliki oleh agama. Jawaban pertanyaan apa-apa saja aspek kehidupan beragama dapat saja berbeda satu sama lain diantara para ahli. Ada yang mengatakan bahwa agama hanya punya aspek kepercayaan kepada yang gaib (metafisika) dan ritual. Ada juga yang berpendapat bahwa yang penting diperhatikan dalam kehidupan  beragama adalah simbol dan tata perilaku.
Koentjaningrat menyebut aspek kehidupan beragama dengan komponen religi. Menurut beliau ada lima komponen atau aspek religi, yaitu:
1.      Kepercayaan Kepada Kekuatan Gaib
Kepercayaan keagamaan dipusatkan atau didasarkan kepada kepercayaan kepadanya adanya kekuatan gaib, yaitu Tuhan yang berada diatas alam ini (supernatural), atau yang dibalik alam fisik (metafisika). Tuhan ,roh, tenaga gaib, mukjisat, alam gaib adalah hal-hal yang diluar alam nyata. Semuanya ini di atas (super,) atau di balik (meta) alam natural atau alam nyata. Kepercayaan kepada adanya kekuatan gaib merupakan inti kepercayaan keagamaan.[10]

2.      Sakral
Dalam kehidupan beragama juga ditemukan sikap mensakralkan sesuatu, baik tempat, buku, orang, benda tertentu,dan lain sebagainya.Sakral (sacred) berarti suci.
Menurut Derkheim, manusia dan masyarakat yang mempercayainya itu sajalah yang menjadikannya suci atau bertuah, tidak karena adanya sesuatu yang lain atau istimewa dalam benda tersebut. Anggapan atau kepercayaan sebagai yang suci ini datang dari subjek yang menganggap atau mempercayainya, tidak pada objek yang dipercayai sebagai yang suci. [11]
3.      Ritual
Kepercayaan kepada kesakralan sesuatu menuntut ia diperlakukan secara khusus.         
Ada upacara keagamaan dalam berhadapan dengan yang sakral. Perlakuakan yang khusus inilah yang disebut ritual.Ritual berhubungan  dengan kekuatan supernatural dan kesakralan sesuatu.
4.      Umat Beragama

Agama tidak ada tanpa penganut dari umat tersebut. Komunitas penganut agama terdiri dari beberapa fungsi keagamaan.Ada yang memimpin upacara,ada yang harus berfungsi menyiapkan tempat dan alat upacara, dan sekaligus mereka menjadi peserta upacara.
5.      Mistisme dan Kebatinan
Kalau supernatural dan sakral adalah aspek keyakinan, ritual adalah aspek perilaku dari ajaran agama. Ketiganya  menimbulkan kesan rasa atau penghayatan ruhaniah dalam diri yang mempercayai dan mengamalkan ajaran agama.Aspek inilah yang dinamakan dengan aspek mistik.[12]

2.4       Mengapa Manusia Butuh Agama?
            Pertanyaan ini bagi kita umumnya mungkin hampir tidak pernah terpikirkan karena kita memang hidup di lingkungan yang beragama. Pada umumnya kita beragama secara keturunan dan otomatis kita mengikuti agama orang tua kita. Selanjutnya kita kemudian mendapat pendidikan yang memperkuat keberagamaan kita dan setelah dewasa terkadang kita mencari kebenaran dari agama yang kita anut sejak kecil tersebut.
Melalui sejumlah kajian maka para pemikir dan ulama mencoba menjawab pertanyaan di atas dan jawaban atas pertanyaan tersebut adalah :
  1. Manusia secara naluri dan fitrahnya memang sangat membutuhkan agama.
Manusia pada dasarnya membutuhkan agama karena hal ini yang membedakan manusia dengan mahluk lain seperti hewan. Dalam beberapa hal, ada kesamaan antara manusia dengan hewan, yaitu sama-sama sebagai mahluk Tuhan sama-sama mempunyai keinginan-keinginan biologis dan sama-sama mempunyai perasaan takut, sedih, dan gembira dan lain-lain. Manusia merupakan mahluk yang unik dan istimewa. Secara fisik manusia lebih lemah dibandingkan dengan hewan tetapi manusia mempunyai jiwa dan akal yang dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah dan lain sebagainya.
  1. Manusia tidak mempunyai jawaban yang pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang alam semesta.
Banyak sekali kejadian-kejadian dialam yang

tidak dapat di kaji dengan menggunakan akal manusia. Oleh karena itu, muncul teori tentang ada hal yang lebih diatas segalanya.
  1. Manusia sangat membutuhkan pedoman untuk mengatur kehidupan di dunia dan mempersiapkan dirinya untuk kehidupan di akhirat.
Manusia sebagai mahluk individu sekaligus sebagai mahluk sosial sangat memerlukan aturan dalam seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari menyalurkan kebutuhan yang paling dasar sampai memenuhi kebutuhannnya yang primer, sekunder dan tersier. Semua aspek kehidupan ada aturannya apalagi untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Ilmuwan barat di antaranya Schumacher menyatakan bahwa materialisme sudah mati, manusia sekarang mencari spiritualisme sehingga menurut hemat kita pencarían dan kembalinya manusia terhadap agama merupakan jawaban yang tepat.[13]
Sumber lain mengatakan bahwa ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah :
  1. Karena agama merupakan sumber moral.
  2. Karena agama merupakan petunjuk kebenaran.
  3. Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
  4. Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.
  5. Karena manusia memiliki kelemahan dan ketidak berdayaan.[14]
2.5 Fungsi Agama
Menurut Dr. H. Jalaludin, agama dalam kehidupan manusia berfungsi : “sebagai suatu sistem nilai yang memuat norma-norma tertentu. secara umum norma-norma tersebut menjadi kerangka acuan dalam bersikap dan bertingkah laku agar sejalan dengan keyakinan agama yang dianutnya. sebagai sitem nilai, agama memiliki arti yang khusus dalam kehidupan individu serta dipertahankankan sebagai bentuk ciri khusus.[15]
Dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang diuraikan di bawah:
1.      Memberi pandangan dunia kepada manusia
Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia karena ia sentiasanya memberi penerangan kepada dunia(secara keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan dalam masalah ini sebenarnya sulit dicapai melalui indra manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwa dunia adalah ciptaan Allah SWT., dan setiap manusia harus menaati Allah SWT.
2.      Menjawab berbagai pertanyaan ang tidak mampu dijawab oleh manusia
Sebagian pertanyaan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya pertanyaan kehidupan setelah mati, tujuan hidup, soal nasib dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan perlu untuk menjawabnya. Maka, agama itulah fungsinya untuk menjawab soalan-soalan ini.

3.      Memberi rasa kekitaan kepada suatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah karena sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama, melainkan tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.
4.      Memainkan fungsi peran social.
Kebanyakan agama di dunia ini menyarankan kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kode etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi peranan sosial.[16]
2.6       Perkembangan agama pada manusia
A. Masa Anak-Anak
 Pada dasarnya manusia mulai berkembang pada saat konsepsi pembuahan ) dalam kandungan sampai senium atau ketuaan. Setelah lahir anak berkembang dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan rumah tangga oleh orang tua, sekolah oleh pendidik, masyarakat oleh akal masyarakat.
             Perkembangan jiwa keagamaan pada masa anak-anak ditentukan oleh pendidikan,latihan-latihan, pengalaman, dan pergaulannya sehari-sehari. Anak sering meniru- niru dan mengikuti apa yang dilakukan orang tua dan pendidik dilingkungan dan praktek keagamaan yang dilihat dan didengarnya.
            Menurut Dr. Zakiah Darajat, Anak-anak mengenal tuhan melalui bahasa dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya yang pada permulaan diterimahnya secara acuh tak acuh saja. Akan tetapi setelah ia melihat orang- orang dewasa menunjukkan rasa kagum dan takut terhadap tuhan maka ia mulai merasa sedikit gelisah dan rasa tentang sesuatu yang gaib yang tidak dapat dilihatnya itu, mungkin ia akan ikut membaca dan mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang tuanya. (Zakiah Darajat,1970:44/45)

Menurut Prof. Dr.H. Jalaluddin sebagaimana dikutip oleh Drs.H. Arsyad H. Anwar dalam bukunya mengatakan bahwa sifat-sifat agama pada anak-anak  adalahp:
1.      Tidak mendalam
2.      Rasa ego
3.      Konsep ketuhanan menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan
4.      Ucapan praktek keagamaan
5.      Meniru
6.      Rasa heran(Jalaluddin 2004:66-74)[17]
B. Masa Remaja
            Menurut Prof.Dr.H.Jalaluddin, perkembangan jiwa keagamaan pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan yaitu : “pertumbuhan pikiran dan mental, perkembangan perasaan, perkembangan social, perkembangan moral, sikap dan minat.”[18]
  1. Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide dan keyakinan beragama yang diterimah

remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka.Sikap kritis terhadap ajaran agama mulai timbul.
  1. Perkembangan perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial,etis, dan estesis mendorong remaja untuk menghayati peri kehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya.
  1. Perkembangan sosial
Corak keagamaan para remaj juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial.Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangn moral dan material remaja sangat bingung menentukan pilihan itu.
  1. Perkembangan moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mnecari proteksi(perlindungan)
  1. Sikap dan minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal itu tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkunmgan agama yang mempengaruhi mereka.
C. Masa Dewasa
Adapun ciri-ciri keberagamaan orang dewasa adalah
1.      Menerimah kebenaran agama berdasarkan pertimbangan yang matang bukan ikut-ikutan
2.      Cenderung bersifat realistis,diaflikasikan dalam sikap dan tingkah laku
3.      Bersikap positif
4.      Tingkat ketaatan beragama didasarkan pertimbangan dan tanggung jawab.
5.      Bersikap lebih terbuka.
6.      Bersifat lebih kritis terhadap materi agama.
7.      Sikap keberagaman cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing.[19]








BAB III. PENUTUP
3.1       Kesimpulan
            Dari uraian yang telah dipaparkan diatas kita dapat mengambil kesimpulan diantaranya :
1.      Manusia merupakan mahluk yang memiliki akal pikiran dengan kemampuan tinggi. Mausia juga dapat diartikan berbeda berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Sedangkan agama adalah kepercayaan manusia kepada tuhan dengan syariat tertentu yang mengatur kehidupannya.
2.      Teori tentang manusia menurut ilmu pengetahuan dan masing-masing agama memiliki perbedaan. Sedangkan teori tentang agama pada mulanya memiliki persamaan yang kemudian berkembang seiring perjalanan waktu.
3.      Ada lima komponen atau aspek didalam agama yaitu kepercayaan kepada kekuatan gaib, sacral, ritual, umat beragama, mistisme dan kebatinan.
4.      Ada beberapa alas an yang melatarbelakangi manusia untuk memiliki agama diantaranya karena agama merupakan sumber moral, karena agama merupakan petunjuk kebenaran, karena manusia tidak mempunyai jawaban yang pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan alam semesta, karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia, dank arena manusia memiliki kelemahan dan ketidak berdayaan.
5.      Secara umum agama berfungsi untuk member pandangan dunia kepada manusia, member jawaban pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia, member rasa kekitaan kepada suatu kelompok dan memainkan fungsi peran social.
6.      Tahap perkembangan agama pada manusia terbagi menjadi tiga yaitu masa anak-anak, masa remaja dan masa dewasa.






DAFTAR PUSTAKA
Tanti Yuniar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jakarta: Agung Media Mulia, 2010
Wardaya, Cakrawala Sejarah 1, Jakarta: PT Widya Duta Grafika, 2009
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahan, Surabaya: Mekar Surabaya, 2002,
Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007
Bustanudin Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2007
Jalaluddin,Psikologi Agama, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007

Arsyad H. Anwar,Ilmu Jiwa agama,kendari:Istana Profesional 2007


[1] Tanti Yuniar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jakarta: Agung Media Mulia, 2010, h. 393
[3] Tanti Yuniar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jakarta: Agung Media Mulia, 2010, h. 15
[5] Wardaya, Cakrawala Sejarah 1, Jakarta: PT Widya Duta Grafika, 2009, hal.110
[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahan, Surabaya: Mekar Surabaya, 2002, hal.356
[8] ibid
[9] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007, hal.27
[10] Bustanudin Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2007, h.61   
[11] Ibid. h.153
[12] Ibid. h.106
[15] Jalaluddin,Psikologi Agama(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2007),h.278
[17] Arsyad H. Anwar,Ilmu Jiwa agama,kendari:Istana Profesional 2007.H.46
[18] Jalaluddin,Psikologi Agama(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2007),h.74-76
[19] Ibid.H.78


Posting Komentar

2 Komentar

Berkomentarlah dengan bijak. Gunakan bahasa yang baik.